Jogja International Batik Biennale 2016, Pengukuhan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia

MENGAPA YOGYAKARTA DITETAPKAN SEBAGAI KOTA BATIK DUNIA?


Pada dasaranya kualitas karya tradisi batik tidak dapat dipisahkan dari kualitas ruang alam dan budaya yang melingkupinya. Wilayah Yogyakarta dengan alam dan budaya yang sarat akan keistimewaan berpengaruh atas perwujudan karya tradisi batik yang istimewa pula, dan memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council pada tanggal 18 Oktober 2014 di Dongyang, RRC.

Terdapat 7 keunggulan nilai Pembatikan di Yogyakarta, yaitu :


1. NILAI SEJARAH
Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan yang kemudian menjadi bagian dari Republik Indonesia memiliki sejarah panjang dan mengakar baik dalam suatu ruang kehidupan maupun peradabannya, termasuk mahakarya tradisi dan lisan yang terwujud dalam batik. Perjalanan sejarah Batik Yogyakarta tidak terlepaskan dari sejarah wilayahnya dan memiliki peran penting dalam mempengaruhi tumbuh kembang Batik Jawa. Perjalanannya dapat dicermati dalam "Sejarah Batik Yogyakarta dalam Rute Jaringan Intelektual Batik Jawa" baik secara sinkronik maupun diakronik.

2. NILAI KEASLIAN
Yogyakarta menjaga keaslian batik yang sarat kearifan lokal ditunjukkan dalam tradisi dan budaya pembatikan maupun penggunaannya. Pembatikan dilakukan melalui proses Rintang Warna dengan "malam" secara tulis menggunakan canting dan cap, serta dipakai dalam Daur Hidup Manusia Jawa maupun dalam seni pertunjukkan. Motif-motif yang diwujudkan memiliki arti dan simbol-simbol kehidupan yang mulia. Yogyakarta terus berproses agar keaslian batik tetap terjaga.

3. NILAI PELESTARIAN
Pembatikan diwariskan dan dikerjakan dari generasi ke generasi dengan tetap menggunakan proses Rintang Warna dengan "malam" secara tulis maupun cap. Pelestarian batik di Yogyakarta tidak hanya dalam bentuk tradisi kain jarik atau selendang, namun telah bertransformasi secara inovatif dan kreatif menjadi beragam pengembangan dan manfaat, media maupun tampilan kontemporer. Di antaranya beragam rancangan pakaian batik, tas batik, dan aneka bentuk perhiasan batik, interior batik, batik dengan media kayu, gitar batik, lukisan batik hingga instalasi batik. Yogyakarta memiliki ribuan perancang, seniman dan pengrajin serta pencelup batik yang inovatif dan kreatif namun tetap melestarikan proses pembatikan rintang warna batik secara tulis maupun cap. Inovasi tetap berdasar tradisi.

4. NILAI EKONOMI
Desa-desa di Yogyakarta yang kemudian menjadi sentra-sentra batik banyak yang telah berabad-abad keberadaanya. Sementara pasar-pasar tradisional yang tersebar di kota maupun desa di Yogyakarta pasti memiliki area untuk penjualan batik. Demikian pula sebaran toko batik telah mewarnai denyut perdagangan dan industri rumah tangga di Yogyakarta. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri, batik memang telah menjadi cinderamata utama bagi wisatawan. Kesemuanya itu menjadi indikator tingginya nilai ekonomi batik Yogayakarta.

5. NILAI RAMAH LINGKUNGAN
Seperti halnya berbagai wastra nusantara lainnya, pada awalnya semua wastra menggunakan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan. Namun sejak William Henry Pekin menemukan pewarna kimia tahun 1856, berangsur-angsur pewarna alam mulai ditinggalkan. Namun pewarna sintetis ini banyak menimbulkan dampak negatif baik bagi pengguna maupun lingkungan pembuangan limbah warna sintetis. Untuk mengatasi dampak negatif dan kembali ke kearifan lokal, di Yogyakarta sejak 2 dekade terakhir, pewarna alam seperti indigo/nila/tarum/tom,mahoni,tingi,jelawe,duwet dll., mulai digunakan lagi. Gerakan kembali ke batik pewarna alam terus ditumbuh kembangkan. Dan Yogyakarta memiliki produksi batik pewarna alam yang terbesar di Indonesia bahkan dunia.

6. NILAI GLOBAL
Pusaka ruang alam dan budaya yang istimewa di Yogyakarta merupakan aset langka dunia. Kerajaan di jawa yang masih tumbuh dan berkembang tinggal 4 buah, dan 2 berada di Yogyakarta yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Sejak lama kerajaan-kerajaan ini, termasuk karya tradisi batiknya, telah menarik pihak penulis dunia untuk mempublikasinya secara internasional. Tidak Kalah menarik pula batik-batik hasil dari desa-desa terus menjadi sumber tulisan pihak-pihak internasional. Reputasi internasional batik Yogyakarta memang telah dirasakan sejak lama. Dan kini pelestarian batik di Yogyakarta semakin berkembang, terutama agar terus ke 7 keunggulan Pembatikan di Yogyakarta terus terjaga. Serta kemampuan yang semakin meningkat dalam menerobos pasar-pasar tradisi maupun modern dunia yang berkelas dan berbagai agenda pameran kebudayaan maupun perdagangan dunia lainnya.

7. NILAI KEBERLANJUTAN
Penerusan keahlian pembatikan di Yogyakarta secara tradisi dilakukan di rumah masing-masing.
Dimana anak langsung melihat dan belajar dari orang tuanya bagaimana membatik. Proses ini masih berlangsung hingga sekarang di desa-desa. Meskipun demikian banyak pula pendidikan baik formal di sekolah maupun informal melalui pelatihan-pelatihan pembatikan terus dikembangkan di berbagai tempat. Keberlanjutan batik di Yogyakarta juga ditunjukkkan dengan banyaknya agenda-agenda pameran, peragaan busana batik, seminar dan lokakarya batik, serta gerakan kembali ke batik warna alam yang diselenggarakan oleh berbagai pihak, baik berskala lokal, nasional maupun internasional. Untuk keberlanjutan tradisi pembatikan yang sarat kearifan lokal ini memang membutuhkan agen-agen keberlanjutan yang teguh melestarikan batik namun inovatif dan kreatif.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jogja International Batik Biennale 2016, Pengukuhan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia"

Posting Komentar